Bandar Lampung Branding Inspirasi Internasional Lampung
Beranda » Berita » GREAT Institute: Visi “Jalan Raya Pasifik” Prabowo Dinilai sebagai Terobosan Doktrin Geopolitik Maritim

GREAT Institute: Visi “Jalan Raya Pasifik” Prabowo Dinilai sebagai Terobosan Doktrin Geopolitik Maritim

JAKARTA, sorotlampung_

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut Samudra Pasifik bukan sebagai pemisah, melainkan “jalan raya ekonomi” yang menghubungkan Indonesia dan Rusia, dinilai sebagai terobosan strategis dalam doktrin geopolitik maritim Indonesia.


Pandangan tersebut dinilai mampu mengubah cara pandang terhadap posisi geografis Indonesia dan kawasan Timur Jauh Rusia (Russian Far East), yang selama ini kerap dipersepsikan sebagai wilayah yang jauh dan sulit dijangkau dalam rantai pasok perdagangan.

Penilaian itu disampaikan Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, menanggapi pidato Presiden Prabowo dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 yang digelar di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Federasi Rusia, Kamis (3/9/2026).


Dalam forum ekonomi yang berlangsung pada 1–4 September 2026 tersebut, Presiden Prabowo hadir sebagai tamu kehormatan utama (guest of honour) atas undangan langsung Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin.

Pendapatan Tubaba 2027 Ditargetkan Rp1,75 Triliun, KUA-PPAS Mulai Dibahas DPRD


“Pandangan Presiden Prabowo di hadapan para pemimpin dunia di Vladivostok menunjukkan lompatan cara pandang baru yang berani dan realistis dalam memandang geopolitik kawasan Pasifik,” ujar Teguh dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (4/9/2026).


Menurut Teguh, posisi Presiden Prabowo sebagai pembicara utama setelah Presiden Putin juga menunjukkan tingginya pengakuan internasional terhadap posisi strategis Indonesia dalam dinamika politik dan ekonomi global.
Pasifik sebagai Koridor Ekonomi
Teguh secara khusus menyoroti pernyataan Presiden Prabowo dalam pidatonya yang menggambarkan Samudra Pasifik sebagai penghubung ekonomi kedua negara.


“Samudra Pasifik tidak memisahkan kita. Samudra Pasifik menghubungkan kita. Ia bukanlah tembok di antara kita. Ia harus menjadi jalan raya antara dua perekonomian kita,” kata Prabowo sebagaimana dikutip Teguh.


Menurut Teguh, gagasan tersebut memiliki arti strategis karena Indonesia memiliki posisi geografis yang sangat penting, yakni berada di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
Posisi tersebut, kata dia, dapat dimanfaatkan untuk memperkuat konektivitas maritim Indonesia menuju kawasan Asia-Pasifik, termasuk membuka akses yang lebih luas ke wilayah Timur Jauh Rusia.


“Selama ini interaksi perdagangan kita dengan Rusia lebih dominan melalui rute barat yang panjang. Padahal, gerbang Vladivostok membuka peluang koridor langsung melalui Pasifik yang dapat menjadi alternatif strategis bagi ekspor komoditas maupun produk manufaktur nasional,” papar Teguh.

Pendapatan Tubaba 2027 Ditargetkan Rp707,36 Miliar, Pemkab dan DPRD Sepakati Propemperda


Ia menilai, penguatan hubungan dengan Timur Jauh Rusia dan negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia (Eurasian Economic Union/EAEU) dapat menjadi bagian penting dari strategi diversifikasi pasar Indonesia.


Hal tersebut dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya fragmentasi geoekonomi global dan perubahan konfigurasi rantai pasok internasional.


Kesamaan Geografis Jadi Modal Kerja Sama
Teguh juga menilai refleksi Presiden Prabowo mengenai kesamaan karakter geografis Indonesia dan Rusia memiliki arti penting dalam membangun hubungan bilateral.


Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, sementara Rusia merupakan negara dengan wilayah terluas di dunia. Keduanya sama-sama menghadapi tantangan dalam membangun konektivitas serta pemerataan pembangunan hingga wilayah terluar dan perbatasan.


Menurut Teguh, kesamaan karakter tersebut dapat menjadi modal bagi kedua negara untuk mengembangkan kerja sama yang lebih konkret, khususnya dalam bidang konektivitas, pembangunan wilayah, energi, pangan, dan teknologi.

Pendapatan Daerah Tubaba Turun Jadi Rp820,34 Miliar, DPRD Mulai Bahas Perubahan APBD 2026


Di sisi lain, forum EEF juga mempertemukan agenda pembangunan Timur Jauh Rusia yang dicanangkan Presiden Vladimir Putin dengan sejumlah prioritas pembangunan Indonesia, termasuk ketahanan energi, ketahanan pangan, hilirisasi industri, dan penguatan konektivitas.
Teguh juga menggarisbawahi pernyataan Presiden Putin yang menyebut kawasan Asia-Pasifik sebagai salah satu pusat pertumbuhan utama dunia.


Menurutnya, kondisi tersebut semakin memperkuat relevansi keterlibatan aktif Indonesia dalam forum ekonomi yang mempertemukan berbagai negara dan pelaku ekonomi internasional tersebut.


Politik Bebas Aktif dan Diversifikasi Ekonomi
Langkah diplomasi Presiden Prabowo di Vladivostok, lanjut Teguh, juga menunjukkan konsistensi Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif serta menjaga posisi nonblok berdasarkan kepentingan nasional.


“Kepemimpinan diplomasi Presiden Prabowo menunjukkan bahwa Indonesia bersahabat dengan semua pihak tanpa harus terikat dalam polarisasi blok politik mana pun,” tegasnya.


Teguh menilai pendekatan tersebut penting di tengah perubahan geopolitik global yang semakin kompleks. Indonesia, menurutnya, perlu terus membangun hubungan ekonomi dengan berbagai pusat pertumbuhan dunia tanpa terjebak pada ketergantungan terhadap satu kawasan atau kelompok negara tertentu.


Konektivitas Harus Segera Direalisasikan


Meski demikian, Teguh menegaskan bahwa gagasan menjadikan Samudra Pasifik sebagai “jalan raya ekonomi” tidak boleh berhenti sebagai narasi diplomatik.


Ia mendorong agar visi tersebut segera diterjemahkan ke dalam langkah konkret, terutama melalui penguatan konektivitas maritim dan pembukaan rute penerbangan langsung antara kota-kota di Indonesia dan Vladivostok.


“Penguatan armada pelayaran dan jalur logistik langsung merupakan kunci agar gagasan besar yang disampaikan Presiden di podium internasional dapat dirasakan manfaatnya secara nyata oleh para pelaku usaha di dalam negeri,” ujarnya.


Menurut Teguh, konektivitas yang lebih baik akan menjadi fondasi penting untuk membuka peluang perdagangan, investasi, pariwisata, pendidikan, riset, serta kerja sama teknologi antara Indonesia dan Rusia.


Sejalan dengan tema EEF ke-11, The Far East: Development for the Benefit of the People, ia berharap hubungan Indonesia-Rusia ke depan tidak hanya berorientasi pada perdagangan, tetapi juga mampu memperluas kerja sama investasi hilirisasi industri, ketahanan pangan, riset teknologi, dan pendidikan tinggi.


“GREAT Institute menyambut hangat inisiatif Presiden Prabowo di Vladivostok dan meyakini bahwa keterhubungan Pasifik ini akan menjadi tonggak baru bagi kemandirian ekonomi serta kemajuan maritim Indonesia di pentas global,” pungkas Teguh.

Penulis : tim liputan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *