Tubaba, Sorotlampung –
Viralnya kebocoran Gedung Sesat Agung di kawasan Islamic Center, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung. Menjadi tamparan keras bagi wajah pembangunan daerah. Bangunan yang baru direhabilitasi di tahun anggaran 2024 dan 2025 menelan biaya Rp 3 miliar itu justru dikabarkan mengalami kebocoran hanya dalam hitungan bulan setelah pengerjaan selesai.
Ketua Kajian Kritis Kebijakan Publik Pembangunan (K3PP), Ahmad Basri, menilai persoalan tersebut bukan sekadar kerusakan teknis biasa, melainkan cermin nyata lemahnya tata kelola pembangunan di daerah.
“Ini bukan hanya soal atap bocor. Ini gambaran bahwa daerah ini bersemangat membangun, tetapi lemah dalam menjaga hasil pembangunan,” tegasnya.
Menurut Basri, cepatnya respons Dinas PUPR melakukan perbaikan pasca video kebocoran viral di media sosial memang patut dicatat. Namun publik juga berhak mempertanyakan, apakah langkah itu murni bentuk tanggung jawab atau sekadar upaya meredam sorotan masyarakat.
Pasalnya, penjelasan teknis yang menyebut penyumbatan saluran pembuangan sebagai penyebab utama justru menimbulkan tanda tanya baru.
“Jika benar karena saluran air tersumbat, maka persoalannya lebih serius. Itu berarti ada dua kemungkinan: perencanaannya buruk atau pengawasannya lemah,” ujarnya.
Ia menegaskan, sistem drainase dan saluran air merupakan unsur paling mendasar dalam konstruksi bangunan. Jika komponen sesederhana itu luput dari perhatian, maka kualitas proyek patut dipertanyakan.
Abas Karta juga menilai wajar bila publik menaruh curiga. Jangan sampai perbaikan kilat yang dilakukan hanya untuk menutup kegaduhan, agar persoalan tidak berkembang menjadi polemik yang dapat menyeret kontraktor pelaksana maupun membuka dugaan ketidakberesan lainnya.
Terlebih, anggaran hampir Rp3 miliar dalam dua tahun berturut – turut tersebut bukanlah angka kecil. Di tengah seruan efisiensi penggunaan keuangan negara, pekerjaan yang cepat rusak justru menjadi ironi dan melukai rasa keadilan masyarakat.
“Pembangunan bukan sekadar seremoni peresmian atau laporan serapan anggaran. Pembangunan sejati adalah ketika hasilnya kuat, berfungsi, dan bermanfaat dalam jangka panjang,” katanya.
Peristiwa Gedung Sesat Agung, lanjut dia, memperkuat kesan yang selama ini berkembang di tengah masyarakat bahwa Tubaba terlalu sibuk mengejar proyek fisik, namun belum serius membangun budaya perawatan aset.
Jika pola seperti ini terus dibiarkan, maka pembangunan hanya akan menjadi lingkaran pemborosan: dibangun, rusak, diperbaiki, lalu dibangun lagi. Uang rakyat terkuras, tetapi kualitas tak pernah benar-benar hadir. Karena itu, Basri meminta adanya evaluasi menyeluruh dan terbuka. Mulai dari siapa yang merencanakan siapa yang mengerjakan hingga siapa yang bertanggung jawab mengawasi.
“Tanpa evaluasi total, setiap bangunan baru hanya menyimpan potensi masalah yang sama tinggal menunggu waktu sampai kembali viral,” pungkasnya.
penulis : ghani
editor : e01


Komentar