Opini Publik
Menjelang Idul Adha 1447 hijriah wajah para peternak kambing di Tulang Bawang Barat dipenuhi kecemasan. Momen tahunan ini selama bertahun-tahun menjadi musim panen bagi rakyat kecil yang menggantungkan hidup dari kandang-kandang sederhana di belakang rumah mereka. Namun tahun ini, yang datang bukan senyuman melainkan kecemasan.
Harga kambing di Tulang Bawang Barat kini justru ambruk. Turun drastis, bahkan disebut nyaris setengah dari harga tahun sebelumnya. Di saat kebutuhan hidup terus naik, biaya pakan makin mahal, dan ekonomi rakyat belum benar-benar pulih, peternak justru dipaksa menerima kenyataan pahit hasil kerja berbulan-bulan dihargai murah.
Ini bukan sekadar soal kambing tidak laku. Ini tentang rakyat kecil yang dipatahkan harapannya.
Di Tubaba, beternak kambing bukan usaha iseng. Dari hasil menjual ternak itulah banyak keluarga membayar sekolah anak-anak mereka, memenuhi kebutuhan dapur rumah menutup utang pinjaman hingga menyimpan tabungan untuk masa depan. Ketika harga jatuh, yang runtuh bukan hanya nilai jual ternak, tetapi juga kestabilan hidup banyak rumah tangga.
Jeritan peternak kini terdengar pelan, namun sesungguhnya sangat memekakan telinga. Mereka bertanya di mana pemerintah berpihak disaat rakyat kecil sedang tercekik ?
Ironisnya, berbagai program yang dulu digembar-gemborkan seolah hilang tanpa jejak. Slogan pemberdayaan peternak, peningkatan ekonomi desa, hingga program seperti Bolo Ngarit terdengar indah saat pidato, namun nyaris tak terasa dampaknya di lapangan. Rakyat tak butuh seremonial belaka.
Rakyat kini butuh solusi nyata. Jika pemerintah serius tentang program semestinya dari hulu hingga hilir harus melalui pertimbangan matang banyak langkah yang bisa dilakukan. Dengan membuka akses pasar hewan kurban ke luar daerah, menjalin kemitraan dengan masjid, lembaga sosial, dan perusahaan penyalur kurban, membentuk koperasi peternak yang aktif, hingga intervensi saat harga jatuh bebas. Itu semua bukan hal mustahil—asal ada kemauan.
Selain itu, peternak juga perlu didampingi menghadapi zaman yang berubah. Standarisasi kualitas kambing kurban pengelolaan pakan murah hingga pemasaran digital harus mulai diajarkan kepara peternak.
Jangan biarkan peternak berjalan sendiri menghadapi pasar yang semakin keras.
Sebab bila kondisi ini terus dibiarkan tahun depan kandang-kandang di Tubaba bisa saja kosong.
Bukan karena ternaknya habis dibeli tetapi karena pemiliknya memilih menyerah. Dan ketika peternak menyerah, yang mati bukan hanya usaha ternak. Yang ikut mati adalah ekonomi rakyat, kemandirian desa, dan harapan keluarga kecil yang selama ini bertahan dalam diam.
Pemerintah harus sadar, suara peternak mungkin tak seramai elite politik. Tapi jika terus diabaikan, jeritan itu suatu hari akan berubah menjadi kemarahan.
Penulis : we ha
Editor : e 01


Komentar