Tubaba, Sorotlamapung.co.id
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) kembali menuai sorotan. Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) milik Yayasan ALMASTANI di Kelurahan Panaragan Jaya, Kecamatan Tulang Bawang Tengah (TBT), diduga mengalirkan limbah cair ke area rawa di sekitar lokasi.
Berdasarkan pantauan di lapangan, limbah cair berwarna keruh tersebut tampak mengalir melalui saluran pipa paralon menuju rawa di sekitar dapur SPPG. Cairan itu terlihat berlendir, berbusa, serta mengeluarkan aroma tidak sedap yang menyengat.
Padahal, dapur SPPG tersebut diketahui telah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Namun, kondisi di lapangan memunculkan dugaan bahwa sistem IPAL pada dapur SPPG Panaragan Jaya 01 belum berfungsi secara optimal.
Indikasi itu diperkuat dengan adanya aktivitas perbaikan pada bangunan IPAL yang tengah dilakukan pihak pengelola. Perbaikan tersebut diduga dilakukan karena proses pengolahan limbah sebelumnya dinilai belum efektif dalam mencegah pencemaran lingkungan.
Ironisnya, meski proses perbaikan IPAL masih berlangsung dan aliran limbah cair berpotensi mencemari lingkungan serta mengancam kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, dapur SPPG Panaragan Jaya 01 terpantau tetap beroperasi seperti biasa.
Saat dikonfirmasi wartawan, pemilik bangunan sekaligus investor utama SPPG Panaragan Jaya 01, Dwi Stepanus mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah operasional dapur harus dihentikan sementara hingga proses perbaikan IPAL selesai dilakukan.
“Yang bisa menjawab itu Pak Alam selaku Kepala SPPG. Saya tidak tahu persis, silakan konfirmasi langsung ke Pak Alam,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Persoalan tersebut turut memunculkan keluhan dari masyarakat sekitar. Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku khawatir limbah cair itu mengandung bakteri berbahaya yang dapat mengancam kesehatan warga, terutama anak-anak.
“Dulu pernah kami tegur karena limbah dialirkan ke saluran drainase warga, sekarang malah dialirkan ke rawa. Kami khawatir limbah ini bisa menimbulkan penyakit,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Keluhan serupa disampaikan seorang petani karet yang memanfaatkan aliran rawa tersebut sebagai sumber air untuk kebutuhan pekerjaannya.
“Air rawa ini satu-satunya sumber air terdekat yang saya gunakan untuk membuat pembeku getah karet. Belakangan tangan saya sering gatal-gatal sepulang kerja. Saya menduga limbah dapur MBG itu yang menjadi penyebabnya,” keluhnya.
Warga mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tubaba melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Satgas MBG, serta pihak berwenang lainnya untuk segera mengambil langkah tegas, termasuk menghentikan sementara operasional dapur hingga proses perbaikan IPAL benar-benar selesai dan berfungsi optimal.
Selain itu, masyarakat juga berharap pihak berwenang dapat melibatkan lembaga independen atau pihak kompeten guna melakukan pengujian limbah secara transparan di hadapan warga, untuk memastikan apakah limbah yang dialirkan ke rawa tersebut aman dan tidak mengandung bakteri berbahaya.
“Pemerintah dan pihak berwenang harus segera turun tangan. Operasional dapur sebaiknya dihentikan sementara sampai semuanya dipastikan aman. Sebab, masyarakat di sekitar lokasi yang merasakan langsung dampaknya,” tegas warga.
Penulis : (Ilham)


Komentar