Opini _
Politik lokal kabupaten Tubaba kembali memperlihatkan gestur yang tidak bisa dibaca sekadar sebuah kebetulan. Dalam Musyawarah Kabupaten (Muskab) Partai Golkar Tulang Bawang Barat, satu kursi penting di barisan undangan justru tampak kosong. Kursi undangan itu adalah “kehadiran pemerintah daerah”.
Ini bukan soal absensi biasa Ini soal simbol?
Golkar bukan pemain pinggiran dalam konfigurasi kekuasaan. Ia bagian dari mesin politik yang selama ini ikut menopang berdirinya pemerintahan di Negara ini. Namun ketika partai ini menggelar forum strategis di daerah pemerintah setempat justru tak tampak kehadiranya. Pertanyaannya sederhana, tapi implikasinya panjang. Ini soal kelalaian teknis, atau sinyal politik yang sengaja dikirim?
Dalam dunia politik, ketidakhadiran sering kali lebih lantang daripada kehadiran. Ia berbicara tanpa kata, namun sarat makna.
Politik Itu Soal Rasa Koalisi di atas kertas memang terlihat solid. Tapi praktik di lapangan jarang sesederhana itu. Politik lokal lebih menyerupai relasi emosional ada yang merasa diabaikan, ada pula yang merasa hanya dimanfaatkan saat momentum elektoral.
Golkar mungkin menyimpan tanya sejauh mana peran mereka benar-benar diperhitungkan, bukan sekadar dilibatkan secara formal?
Di sisi lain, pemerintah bisa saja melihat dukungan politik sebagai sesuatu yang belum tentu sepenuhnya solid. Ketegangan seperti ini jarang meledak dalam konflik terbuka. Ia akan tumbuh perlahan, dari akumulasi kekecewaan kecil yang tak pernah benar-benar diselesaikan.
Muskab: Forum atau Arena?
Bukan rahasia, Muskab dalam tubuh partai seperti Golkar kerap menjadi arena pertarungan pengaruh. Di titik ini kehadiran pemerintah menjadi posisi dilematis hadir berpotensi ditafsirkan berpihak, absen justru dibaca menjauh.
Pilihan untuk tidak hadir mungkin dianggap jalan aman. Namun dalam politik sikap “aman” sering kali justru menjadi keputusan paling berisiko. Sebab netralitas kerap ditafsirkan sebagai keberpihakan yang belum diumumkan.
Isyarat Kecil, Dampak Besar
Di daerah seperti Tulang Bawang Barat, gestur politik sekecil apa pun bisa memicu dinamika besar. Ketidakhadiran ini berpotensi menjadi lebih dari sekadar peristiwa seremonial.
Ia bisa dibaca sebagai awal renggangnya komunikasi.
Bisa pula menjadi tanda pergeseran loyalitas atau bahkan sinyal bahwa peta kekuasaan sedang diam-diam digambar ulang.
Sementara itu, publik kembali ditempatkan sebagai penonton. Menyaksikan dinamika tapi tanpa akses pada naskah utuh yang sebenarnya sedang dimainkan.
Retorika “Baik-Baik Saja”
Seperti biasa klarifikasi yang muncul kemungkinan akan normatif “tidak ada masalah”, hanya kendala teknis atau hubungan tetap harmonis.
Namun dalam praktik politik semakin sering frasa “baik-baik saja” diulang, justru semakin besar kemungkinan ada sesuatu yang tidak sedang baik-baik saja. Antara Kesetiaan dan Perhitungan.
Relasi antara Golkar dan pemerintah hari ini menyerupai dua mitra lama yang mulai menjaga jarak. Bukan karena tidak saling mengenal tetapi karena masing-masing mulai berhitung siapa membutuhkan siapa, dan sampai kapan.
Pada akhirnya, politik tidak pernah benar-benar soal kawan atau lawan. Ia adalah soal kepentingan yang hari ini mungkin sejalan, tapi besok bisa saja berseberangan.
Muskab Golkar Tubaba kemarin, dengan segala simbol yang menyertainya tampaknya bukan sekadar agenda internal partai. Itu adalah cermin kecil dari pertanyaan yang lebih besar.
Apakah koalisi yang terbangun hari ini masih berdiri di atas kebersamaan, atau perlahan berubah menjadi sekadar kenangan dari masa ketika kemenangan masih menjadi tujuan bersama?
Penulis : Kang We-ha


Komentar