Opini Publik _
Di kampung-kampung Kabupaten Tulang Bawang Barat, ada satu profesi yang belakangan terasa makin akrab di telinga masyarakat Bolo Ngarit. Pagi mencari rumput. Siang membersihkan kandang. Sore memberi pakan. Malam menghitung cicilan.
Di atas kertas semua terlihat seperti kisah sukses ekonomi rakyat.
Pemerintah datang membawa slogan pemberdayaan “Peternakan rakyat harus maju.”
Sementara Perbankan datang menawarkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) “Modal mudah, bunga ringan.”
Sementara di kandang, kambing hanya menjadi saksi bisu dari kenyataan yang jauh dari romantisme program. Harga jual turun, pembeli sepi, biaya pakan naik, namun tagihan cicilan tetap berjalan tanpa kompromi.
Di titik inilah ironi mulai terasa.
Rakyat didorong produktif, tetapi pasar dibiarkan pasif.
Ketika Program Tidak Bertemu Kenyataan
Beternak kambing sejatinya bukan pilihan yang salah. Di desa-desa Tubaba, kambing sudah lama menjadi “tabungan hidup” masyarakat kecil. Dijual saat anak masuk sekolah, biaya berobat, hingga kebutuhan mendadak lainnya.
Masalahnya bukan pada ternaknya.
Masalahnya ada pada cara negara dan sistem memandang peternakan rakyat.
Hari ini masyarakat diajak memperbesar kandang, tetapi tidak diajak memahami pasar. Semua berlomba memelihara kambing, namun nyaris tidak ada jaminan soal harga, distribusi, hingga kepastian pembeli ketika panen ternak massal terjadi.
Akibatnya sederhana, populasi kambing meningkat, tetapi harga justru terjun bebas.
Dalam situasi seperti ini, yang paling diuntungkan sering kali bukan peternak, melainkan tengkulak yang membeli di harga rendah lalu menjual kembali dengan margin besar.
KUR: Solusi atau Awal Masalah Baru?
Kredit Usaha Rakyat selama ini dipromosikan sebagai jalan keluar permodalan masyarakat kecil. Secara teori, itu benar. Tanpa modal, usaha sulit berkembang.
Namun persoalannya menjadi berbeda ketika pinjaman diberikan pada sektor yang pasar dan kestabilan harganya belum benar-benar sehat.
Karena bank hanya mengenal dua hal, jatuh tempo dan angsuran.
Bank tidak mengenal musim paceklik. Tidak peduli harga kambing anjlok. Tidak memahami ternak sakit atau pembeli sepi.
Maka jangan heran jika perlahan muncul fenomena baru di desa-desa, rumput makin sulit dicari, kambing makin kurus, peternak makin stres, tetapi tagihan justru tetap gemuk.
Yang naik kelas kadang bukan ekonomi rakyatnya, melainkan angka penyaluran kreditnya.
Tubaba dan Romantisme Program Instan
Ada satu kebiasaan yang mulai terasa berulang di daerah ini: terlalu mudah jatuh cinta pada program. Hari ini kambing. Besok ikan. Lusa ayam. Minggu depan entah komoditas apa lagi.
Semua dimulai dengan seremoni. Spanduk dipasang. Foto-foto dibagikan. Kata “pemberdayaan” diucapkan berulang-ulang.
Tetapi setelah acara selesai, rakyat sering dibiarkan berjalan sendiri menghadapi kerasnya pasar.
Padahal ekonomi rakyat tidak cukup hanya diberi motivasi dan pinjaman.
Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem, pasar ternak yang sehat, koperasi yang benar-benar bekerja, rumah potong modern, akses distribusi, hingga stabilisasi harga.
Karena peternakan bukan sekadar soal memelihara kambing. Ini soal menjaga rantai ekonomi agar tidak putus di tengah jalan.
Satir yang Diam-Diam Menyakitkan
Yang paling menyedihkan bukan ketika harga kambing jatuh. Tetapi ketika rakyat kecil mulai percaya bahwa utang adalah satu-satunya cara untuk terlihat berkembang.
Padahal para peternak lama dulu tumbuh perlahan tanpa seminar, tanpa proposal, tanpa istilah hilirisasi. Mereka paham satu prinsip sederhana, jangan memperbesar kandang jika pasar belum jelas.
Hari ini justru sering terbalik.
Kandang diperbesar lebih dulu, baru kemudian bingung menjual hasilnya. Yang Seharusnya Dibangun Kalau pemerintah benar-benar serius menjadikan bolo ngarit sebagai kekuatan ekonomi desa, maka yang dibangun tidak boleh hanya populasi ternaknya.
Yang harus dibangun adalah ekosistemnya.
Mulai dari koperasi pembeli ternak, pasar digital lokal, kontrak tetap dengan usaha aqiqah dan kurban, rumah potong modern, pelatihan pakan fermentasi, hingga membuka distribusi antar daerah.
Karena rakyat kecil sebenarnya tidak malas bekerja. Yang sering bermasalah justru sistem yang mengelilinginya.
Penutup
Bolo ngarit bukan simbol kemiskinan. Ia adalah simbol rakyat yang tetap mau bertahan hidup dengan cara halal di tengah ekonomi yang makin keras. Yang memalukan justru ketika rakyat terus didorong mengambil utang tanpa perlindungan pasar yang jelas.
Sebab kambing memang bisa berkembang biak.
Tetapi cicilan juga demikian. Dan di negeri yang terlalu sibuk melahirkan program ini, kadang yang paling cepat gemuk bukan ternaknya—
melainkan beban hidup rakyatnya.
Penulis : kang we_ha


Komentar